Jumat, 15 Februari 2013

Gadis yang Mati Bebas

Seorang gadis berjalan dengan langkah yang perlahan.
Hujan sudah menurunkan rinai airnya sejak sore tadi, sekarang petang mulai menjalar namun bulir-bulir yang membasahi rambut hingga ujung kakinya itu belum juga menunjukkan tanda akan berhenti. Tidak, dia sama sekali tidak menghindari basah oleh hujan. Sebaliknya, dia dengan sengaja melambatkan tempo langkah kakinya dan membiarkan air hujan lebih banyak lagi membasahi tubuhnya.

Orang-orang yang sudah berada di dalam rumah membuka jendela mereka, memanggil si gadis yang sendirian tanpa kawan. Mungkin si gadis memang sudah gila, siapa yang mau berjalan sendirian di tengah hujan. Apalagi saat musim dingin begini.
"Hei bodoh, kamu kehujanan. Berteduhlah!!!" tukas mereka nyaring.

Si gadis menoleh.
Menghentikan langkahnya, memandang orang-orang yang balik memandanginya dengan pandangan sinis dan mengejek. "Kamu benar-benar bodoh ya? Dinginnya malam bisa membunuhmu!" teriak seorang ibu yang lalu menutup jendelanya dengan keras, kemudian diikuti oleh orang-orang lainnya.

Hujan mulai berhenti. Angin malam menggantikan titah semesta untuk menjaga temperatur desa kecil itu agar tetap berada di bawah lima derajat. Semua orang terlelap, semua orang kecuali seorang gadis yang duduk bersandar di bawah lampu jalan.

Iya tubuhnya memang kedinginan setengah mati. Matanya berat seperti akan tertidur dalam jangka waktu yang lama. Namun tawanya sayup-sayup terdengar, awalnya kecil namun lama kelamaan menjadi keras dan membahana, membangunkan orang-orang yang mulai menyumpah serapah.
"Dasar gadis gila!"
"Bodoh! Mahluk betina bodoh!"

Esok paginya tak ada lagi si gadis bodoh. Hanya seonggok daging yang semalam menyuarakan tawa kebebasannya. Biarlah semua orang menganggap dia gila, biarlah dia mati dalam tusukan-tusukan nyeri akibat hipotermia.
Si gadis cuma tau, dia mati bebas.
Dia mati tanpa harus menuruti lagi apa yang diperintahkan orang-orang.

Si gadis bebas sudah pergi.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting