Senin, 18 Februari 2013

Alena Takut Gelap

Sembari duduk memeluk lutut, gigi Alena gemeletuk merasakan dingin angin yang berhembus perlahan. Senter di tangannya mati, setelah tiga jam menyala tanpa henti baterainya pasti sudah habis sekarang.

Itu dia, sosok yang ditunggu Alena sejak tadi. Zeva setengah berlari menemui Alena, nafasnya memburu. Saat melihat Alena terduduk di atas trotoar sambil melirik kesal, Zeva tertawa. “Ya ampun Len, gue beneran nggak ngerti sama lo. Kita udah dua puluh tahun Len, dua puluh tahun,”

Alena berdiri, menyambar selimut yang dibawa Zeva sambil mendengus sebal. “Semua orang punya ketakutannya sendiri Zev,” balasnya dengan nada yang sedikit meninggi. “Kamu parkir dimana?” tanyanya sambil memakai selimut yang dibawa Zeva sekedar untuk menghangatkan diri.

Zeva tak menjawab, dahinya berkerut menyadari bahwa tak ada alas kaki yang dipakai Alena. “Lo kan bisa bawa jaket, atau seenggaknya pake sendal deh. Masa iya lo nggak kepikiran buat ngelakuin sesuatu selain lari keluar rumah,”

Seperti sudah kebal dengan kata-kata Zeva, Alena berjalan saja di samping sahabatnya itu. Toh cepat atau lambat Zeva pasti menuju ke tempat mobilnya diparkir.

“Gue beliin kentang goreng sama burger tadi, nggak sempet makan kan lo?” ucap Zeva begitu mereka berdua memasuki mobil. Alena hanya melihat kertas pembungkus berwarna coklat yang diberikan Zeva lalu menggeleng. “Yaudah, kalo mau makan ambil aja ya,”

Alena tak menjawab, kepalanya pusing, matanya berat. Setelah menurunkan sandaran kursi, ia terlelap.

...

Seorang gadis kecil, terisak-isak sambil memukul pintu dengan kepalan kecilnya. Ia tak tau pasti berapa lama sudah terkurung disini, ia hanya tau ayah marah. Ayah marah karena dia tak menghabiskan makanannya. Ayah marah karena dia mencoreti dinding kamar dengan pensil warna. Dan seperti biasa kemarahan ayah selalu berujung di hukuman yang sama.

...

Seorang senior marah-marah di depan, entah alasannya apa. Semua juniornya menunduk, tak jelas karena merasa bersalah atau takut dengan tampang seram si senior galak. “Kalian sudah memasuki SMA, Sekolah Menengah Atas!! Mana contoh kedewasaan kalian? Mana bentuk hormat kalian pada senior? Jawab!!!”

Kelas hening.

Si senior makin besar nyali. Ditariknya seorang siswi yang duduk di paling depan, “Tutup mata kamu,” bentaknya sambil menyapu seluruh ekspresi junior lain yang was was.
Siswi yang ditunjuk ke depan menggeleng takut.

“KENAPA?” tanya si senior setengah memaksa. Dia lalu melepas dasinya dan berjalan mendekat, hendak menutup mata siswi junior yang keras kepala.

Siswi tadi lantas melawan, bergerak sebanyak yang dia bisa, tangisnya pecah. Seluruh isi kelas tak mengerti alasannya. Si senior langsung ciut melihat responnya. Sekarang semua orang menganggapnya kurang waras.

...

Zeva memandangi Alena yang tertidur pulas. Brengsek, selalu saja ada sensasi aneh yang memenuhi perutnya tiap kali melihat Alena.

Sensasi yang membuat otot pipinya mengendur pelan, menggelitik saraf tawa, dan memunculkan kebahagiaan aneh yang tak bisa dijelaskannya.

Alena menggumam pelan, “Zev,”

“Ya?”

Sepi. Tak ada jawaban. Senyum Zeva mengembang.

Apapun, akan dilakukannya apapun untuk Alena.

...

“Udah kapok kamu?” ayah membuka pintu, suaranya masih sekasar tadi.

Alena merangkak ke kaki ayahnya, memeluk kaki sang ayah sambil menangis sesenggukan. “Lena takut, jangan kurung Lena lagi ayah,”

Ayahnya diam, lalu pergi meninggalkan Alena kecil yang bahkan terlalu letih untuk mengejarnya. Tangis sudah menghisap tenaga yang tersisa dari Alena.

...

Zeva menghampiri siswi yang berdiri dengan satu kaki di depan tiang bendera. Alisnya naik sebelah, “Ngapain lo?”

“Dihukum senior,” si siswi menjawab cuek sambil terus menghadap ke depan.

“Ngapain emangnya?” tanya Zeva sambil ikut berdiri di sebelahnya lalu mengangkat satu kakinya juga. Setelah mengisi roti lapis yang ditujukan untuk seniornya dengan kecoak mati, dia dihukum berdiri di depan tiang bendera sampai waktu yang belum pasti.

Siswi yang tadinya cuek, sekarang menoleh ke arahnya. “Nangis,”

Zeva mulai menangkap maksudnya, “Elo yang nangis sambil ngamuk tadi pagi ya?”
Mendengar pernyataan teman barunya, Alena mengernyit heran. Berita ini pasti sudah menyebar ke satu sekolah, buktinya bukan hanya teman sekelasnya saja yang tau. Lagipula dia tidak merasa sudah mengamuk, dia hanya ingin meloloskan diri dari perintah seniornya.

“Gue Zeva,”

“Alena,”

...

Alena membuka mata, melirik jam yang ada di mobil Zeva.

“Zev, ini udah jam sembilan,” katanya sambil mengguncang bahu Zeva.

Zeva terbangun, “Gue baru tidur dua jam yang lalu Len,” katanya hendak memejamkan mata lagi. Kepalanya masih pening, minuman energi yang semalam diminum untuk tetap terjaga seperti sudah habis efeknya.

Mendengar jawaban Zeva, Alena heran, “Kamu begadang semaleman? Kenapa?” tanyanya masih terus berusaha membangunkan Zeva, ada jam kuliah yang sudah mereka tinggalkan pagi ini. Kalau Zeva belum bangun juga, mata kuliah kedua juga akan terlewat.

Zeva dengan morning voice yang serak menjawab, “Gue takut kalo lo bangun dan masih gelap, ntar lo takut,”

“Kamu? Kamu bangun semaleman buat jagain aku?”

“Iya,” Zeva menggeliat malas. “Udah deh ah gue mau tidur ngga usah bawel,”

Kepakan-kepakan sayap kupu-kupu dalam perut Alena makin terasa. Lesung pipit yang ada di pipi kirinya muncul malu-malu. Zeva, dimana lagi bisa kutemukan yang seperti kamu?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting