Jumat, 11 Januari 2013

(bukan) Tentang Korean food

Sebagai perayaan selesainya UAS, kami berempat (gue-Tata-Lidya-Uti) memutuskan untuk makan di sebuah kedai kecil yang menyajikan menu masakan Korea.

Itung-itung sekalian memuaskan rasa penasaran soal makanan dari bangsa lain.Terpilihlah tempat makan ini, yang beberapa hari lalu secara tidak sengaja kami lewati.

Pemilik sekaligus chef-nya adalah seorang ibu, gue lupa tanya namanya padahal udah ngobrol ngalor-ngidul (istilah jawa: dengan topik bermacam-macam). 

Oiya sebelum post-nya berlanjut, ini foto-fotonyaaa.
Menu yang namanya susah susah ini taste-nya oke punya loh

"Ini varian sausnya, dicobain dulu aja.." ujar si ibu dengan ramah

Cheese Tteokbokki : egg, cabbage, carrot, rice cake, gochujang, cheese.
Catet!! Cheese-nya melted!!!

Skewers Tteokbokki ditaburi rumput laut kering di atasnya :9

"Makan Kimchinya harus sukses yaaa, kalo cara makannya salah rasanya jd ngga enak.."

Ottogi Curry Hot :9 nyemnyemnyem

Gue dan Tata akhirnya pesen Okonomiyaki buat dibawa pulang :p
Seperti biasa, gue dan Tata yang tukang ngobrol (baca: suka sok kenal) akhirnya ngobrol buanyak sama ibu yang ngomongnya indonesia campur inggris ini.

Oke, siap-siap kaget ya.

Pada masa mudanya, beliau berkuliah di Jepang. Alasan kuliahnya? Orangtua.

Orangtua beliau berpesan, "Kamu harus kuliah di luar negeri, biar dapet pengalaman, tau gimana rasanya negeri orang."

Akhirnya berangkatlah beliau ke Jepang dan berkuliah disana.

Meskipun kuliah di jurusan ekonomi, namun passion utama beliau adalah seni.
Memasak masakan Jepang dan Korea dipelajarinya selama liburan.
Merangkai bunga dengan berbagai macam variasi karangan bisa dilakukannya.

Ps: gue baru tau kalau ada karangan bunga gaya Belanda, gue kira merangkai bunga identik sama Jepang. *yah norak*

Mengenai lovelife, jangan ditanya deh. Meskipun beliau nggak pernah punya pacar orang Jepang tapi mantannya dulu orang Jerman sama Itali. *katanya orang Itali beneran romantis loh, catet!!*

Tapi sayangnya orangtua beliau melarang anaknya punya calon (suami) selain orang Indonesia karena ternyata orangtua beliau sudah menyiapkan calon untuk dinikahi sepulangnya beliau dari Jepang.

Ini adalah kutipan akhir obrolan gue dengan beliau:

Beliau (B) : "Tenyata udah disiapin calon teh (teteh: kakak dalam bahasa sunda) di kampung ibu, yaudah aja ibu jadi nikahnya sama orang kampung."
Owl (O) : "Loh, kenapa ibu nurut aja?"
B: "Terus ibu musti gimana emangnya? Orangtua kan harus diturutin teh.."
O: "Kan ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan bu."
B: "Ya tapi dibicarakan harusnya teh, bukan dibantah. Seperti inilah hasilnya sekarang, setelah nikah sama orang kampung."
O: "..."
B: "Tapi ibu mah nggak menyesal, kalau bahasa perancisnya kan c'est la vie (begitulah hidup)"

C'est la vie..
*dengan poker face nggak ngerti gimana harus menanggapi akhir ceritanya*

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting