Minggu, 06 Januari 2013

Analisis mimpi - Sigmund Freud

Terbangun dengan sakit kepala setelah mengalami mimpi buruk dua episode berturut-turut. Sebagai mahasiswi psikologi yang sangat malas baca buku, gue akhirnya googling mengenai analisis mimpi.
Salah satu tokoh yang terkenal dengan analisis mimpi adalah 
Bapak Psikoanalisa, Sigmund Freud.

Buku yang ditulis oleh Freud (The Interpretation of Dream) pertama kali diterbitkan pada tahun 1899 dan berisi tentang keterkaitan mimpi dengan pemenuhan-pemenuhan.

Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur.

Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga.
Misalnya saja seorang anak yang sering dipukuli oleh ayahnya bermimpi membalas pukulan atau bahkan membunuh ayahnya.

Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, slip bicara (slips of the tongue), maupun lelucon.

Freud juga menjelaskan bahwa analisis mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada pemimpi dalam kehidupan nyata. Terutama untuk peristiwa yang terjadi pada hari sebelumnya.

Sebagian besar cerminan interpretasi mimpi berisi ketakutan,
keinginan, dan emosi yang ada dalam pikiran bawah sadar.
Mimpi negatif dapat ditafsirkan sebagai peristiwa yang pemimpi berharap tidak akan terjadi.
Misalnya saat kita bermimpi ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, itu berarti kita berharap bahwa orang yang kita sayangi tidak akan meninggalkan kita.

Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata.

Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998)
bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi.

*source: intanpsikologi.wordpress.com
**images's source: google

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting