Kamis, 20 Desember 2012

Saudara (tidak) sedarah

Gue memang pelupa.
Karenanya gue sengaja meletakkan beberapa benda di tempat dimana gue akan sering melihatnya.

Cermin persis menempel berhadapan dengan kursi kerja.

Mawar yang tiap pagi kuucapkan selamat pagi di atas meja kerja.

Pita oranye kecil di pigura cermin.

Cermin yang selalu mengingatkan gue soal lingkar mata, kulit berminyak, dan senyum apresiasi terhadap diri sendiri setelah menyelesaikan sebuah tugas atau tulisan.

Mawar yang mengingatkan untuk terus bersyukur pada Sang pemberi hidup atas pertemuan dengan si pemilik senyum bintang.

Pita oranye kecil yang selalu saja mengingatkan soal kepedulian. Kepedulian dari seorang saudara yang tak diciptakan sedarah. Kepedulian yang selalu bisa diandalkan.

Dan untuk tiap kesulitan yang datang, gue yakin mampu menghadapinya.
Sekuat keyakinan bahwa Tuhan tidak akan menciptakan sebuah ruang tanpa pintu keluar.

Untuk saudara yang dilahirkan dari bukan rahim ibundaku.
Aku peduli.
Aku peduli dan membutuhkanmu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting