Sabtu, 22 Desember 2012

Patah hati juga bisa

Gue percaya cinta akan menimbulkan kekuatan.

Kalau ada yang nggak percaya, coba liat statistik jumlah kelahiran tiap tahunnya.
Setiap calon ibu tau bahwa melahirkan itu sakit dan tidak mudah tapi banyak ibu yang nggak kapok punya anak.

Kalau masih nggak percaya juga, coba liat ayah yang bekerja mulai dari pagi sampai malam trus pulang ke rumah dan harus berangkat lagi besok paginya.
Beliau tau gajinya akan dibagi untuk kehidupan istri dan anaknya tapi tetap ikhlas berangkat dan bersusah payah meskipun bukan untuk kesenangan sendiri.

Itu tadi cinta yang positif.

Patah hati (yang notabene dulunya cinta) juga bisa menimbulkan kekuatan.
Nggak percaya? Gue juga.
Sampai seorang senior yang sekarang sudah lulus membuktikan kekuatan patah hati ke gue.

Pasangannya pergi setelah memutuskan hubungan secara sepihak karena berselingkuh.
Hubungan mereka sudah sampai di tahap pertunangan dan sedang menyiapkan pernikahan.
Sakit? Pasti.
Apalagi setelah dia tau bahwa alasannya adalah keberadaan orang ketiga.

Namun kemudian dia menanggapi patah hati dengan sikap yang berbeda.
Saat orang lain yang mungkin satu nasib masih dalam fase nangis-menyalahkan-takdir
dia menggunakan patah hatinya untuk mengerjakan skripsi.

Iya,
tidur hanya beberapa jam sehari, kejar dosen pembimbing,
bimbingan hampir setiap hari.
Lalu menyelesaikan kuliah tepat waktu (yang mana jarang banget ada di fakultas gue yang masuk dalam 3 fakultas dengan persentase kelulusan tepat waktu paling rendah se-universitas)

Setelah mendengarkan cerita senior gue.
Gue mungkin perlu mengubah statement yang menjadi pembuka post ini.

Cinta (dalam apapun bentuknya) selalu akan menimbulkan kekuatan.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting