Kamis, 20 Desember 2012

Arguing instead of fighting


"Healthy couple don't fight, they argue."

Kalimat pembuka yang bagus kan? Dalam relasi intim seperti berpacaran dan suami istri kadang kita sulit membedakan antara fighting dengan arguing.

Berikut perbedaan antara arguing dan fighting :

FIGHTING:
Menaikkan nada suara
Membesar-besarkan masa lalu
Saling menjelekkan satu sama lain
Berfokus pada masalah





ARGUING:
Nada suara tenang
Saling menghormati
Berfokus hanya pada satu isu
Berfokus pada solusi



Di bawah ini adalah 10 langkah melakukan adu argumen dengan pasangan tanpa harus bertengkar.

1. Pilih satu waktu dalam seminggu untuk bicara.
Waktu yang dipilih ini harus merupakan waktu yang tenang dan tidak mengganggu agenda dua belah pihak supaya pertemuan/pembicaraan tidak dimulai dengan terpaksa.

2. Matikan hp, tv, laptop, atau sumber distraksi yang lain.
Memusatkan perhatian pada pasangan dan diskusi yang dilakukan merupakan hal yang penting supaya pembicaraan yang dilakukan bisa berfokus pada isu/permasalahan yang harus diselesaikan.

3. Pilih satu orang (lo/dia) yang memberikan sebuah topik.
Pemilihan topik ini bisa dilakukan bergantian tiap minggu, misalnya minggu ini lo yang pilih topiknya, minggu berikutnya giliran dia.
Mulailah dengan topik yang ringan sebelum berlanjut ke topik yang lebih berat, misalnya kebiasaan dia yang nggak memberikan kabar sama sekali pas dia sibuk.

4. Berikan batasan waktu, misalnya 15 menit.
Orang yang memilih topiknya diberikan waktu bicara 15 menit. Dalam 15 menit ini tidak boleh ada interupsi atau pembelaan diri dari pasangan yang kebagian giliran mendengarkan.
Meskipun mungkin akan terdapat salah pemahaman atau salah penafsiran situasi, biarin aja sampai waktu bicara yang diberikan habis.

5. Saling berpegangan tangan.
Saling berpegangan tangan menunjukkan adanya ikatan secara emosional yang kuat antar pasangan.

6. Gunakan kalimat yang dimulai dengan, "Aku merasa.."
Misalnya, "Waktu kamu sibuk seharian dan nggak memberikan kabar sama sekali, aku merasa khawatir."

7. Hindari menggunakan kalimat 'selalu' dan 'tidak pernah'
Orang sangat jarang 'selalu' atau 'tidak pernah' melakukan sesuatu. Menggunakan dua kata itu malah membuat pasangan berperilaku defensif dan tidak memberikan pemecahan masalah.

8. Berikan solusi.
Misalnya, "Menurutku kamu bisa kabari aku sebelumnya kalau kamu akan sibuk seharian, jadi aku nggak khawatir."

9. Saat waktu habis, berikan giliran bicara dengan waktu yang sama untuk pasangan.
Peraturan yang sama berlaku untuk orang berikutnya. Tidak boleh ada interupsi dari pasangan yang kebagian giliran mendengarkan. Orang kedua yang bicara merespon topik yang sama dari sudut pandangnya, mengungkapkan perasaannya, dan memberikan solusi (bisa jadi sama atau berbeda)

10. Setelah waktu bicara untuk kedua pihak habis, pembicaraan selesai.
Terlepas dari ditemukan atau tidaknya solusi untuk masalah sebelumnya, pembicaraan harus selesai untuk menghindari debat panjang yang biasanya berujung pada pertengkaran.
Selanjutnya bisa dibuka topik baru yang lebih berat dari sebelumnya atau menyelesaikan diskusi.

Langkah tambahan:
11. Menjauhlah ketika marah.
Kalau lo merasa akan ngomong sesuatu yang nggak berbobot atau memberikan pembenaran akan tindakan lo, bilang ke partner lo untuk menunda pembicaraan ini selama beberapa menit. Penting untuk bilang kalau lo bakal balik lagi setelah beberapa menit karena bisa jadi partner lo merasa ditinggalkan dan tidak dipedulikan.

*Blog post ini ditulis setelah membaca artikel di website Psychology-Today dengan
judul: "10 Steps for Arguing Instead of Fighting"
yang ditulis oleh Stephanie Sarkis, Ph.D.
**images source: google

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting