Kamis, 22 November 2012

'Bahagia Selamanya' yang nyata


Mama bercerita padaku dengan suara yang selalu saja menenangkan hati, "Papa itu, dulu kalau janjian mau jemput mama pulang dari kampus..." sebelum melanjutkan, mama memastikan bahwa lelakinya mencuri dengar dengan mengencangkan volume suaranya.

Ah, selalu saja ada bintang yang kerlipnya tak bisa disembunyikan dari mata mama tiap kali membicarakan lelaki yang sampai sekarang masih menciumnya setiap pagi.

Cerita berlanjut, "...sejam sebelum waktu janjiannya udah ada di parkiran. Mama sebel deh, bikin orang nggak enak aja. Lagian mau jemput aja semangat banget sih,"

Mama kemudian melirik lelaki yang sedang bercermin mengancingkan kemejanya sambil cemberut penuh kepalsuan. Iya aku tau mama cemberut palsu, karena aku melihat senyum yang mengintip malu di sudut bibir mama.

Lelaki yang dibicarakan menoleh, mengangkat bahu. Kalau istilah jaman sekarang, sok keren, sok ganteng. "Anggep aja dulu aku pura-pura semangat jemput kamu, meskipun parkiran kampusmu panasnya bukan main, meskipun kamu dulu dekil nggak pernah dandan."

Mama tak mau kalah, segera dipotongnya ucapan papa dengan nada meyakinkan. "Lha, kalo bukan aku siapa lagi emangnya yang mau jadi gadismu? Coba sebut.."

"Itu juga jadi salah satu pertimbanganku memilihmu. Toh si gadis dekil yang kurus sekarang bisa jadi cantik dan..." papa melirik dengan kalimat yang tak selesai.

Mama tertawa, "Apa? gendut?" tebaknya tanpa tersinggung.

"Kamu yang bilang lho, bukan aku." papa menutup pembicaraan pagi dengan nada kemenangan. Kami bertiga tertawa.

Drama pagi itu diakhir dengan ciuman lembut yang mendarat di kedua pipi mama. Semacam ritual Sabtu pagi saat dua orang yang menurutku masa pacarannya tak pernah selesai itu terpaksa tidak berangkat kerja bersama karena jadwal libur yang berbeda.

Dan dibesarkan oleh mereka membuat gadis yang tak ingin cepat menjadi dewasa ini mempercayai bahwa 'bahagia selamanya' bukan hanya bagian dari dongeng pengantar tidur.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting