Selasa, 09 Oktober 2012

Bukan. Korupsi bukan budaya bangsa.

Seorang dosen mata kuliah Antropologi Psikologi menampar saya dengan kata-katanya siang ini. Tema kuliah kami adalah evolusi budaya, membosankan kedengarannya memang. Namun beliau memang istimewa, selama seratus menit mampu mencuri atensi kami yang bertujuhpuluh lebih.

Kuliah dimulai dengan sebuah pertanyaan singkat.
"Apakah korupsi merupakan budaya bangsa kita?"


Kelas kami diam.
Seorang yang duduk di belakang menjawab tanpa mengacungkan tangan, "Bukan Bu,"

"Lantas, apakah korupsi sudah menjadi budaya kita sekarang?"

Saya tak mampu menjawab.
Ada ego yang terluka saat mendengar kalimat korupsi sudah membudaya
tapi untuk bicara dan menyampaikan argumen, saya terlalu pengecut.

Bu Sri melanjutkan kuliahnya. "Budaya adalah hal yang diwariskan turun temurun, nilai yang diajarkan dari lingkup sosial terkecil. Kalau dari lingkungan keluarga sudah melakukan korupsi? Apakah bukan membudaya namanya?

Keluarga melakukan korupsi? Saya mengira kuliah ini sudah mulai melantur.
Korupsi hanya dilakukan oleh pejabat yang memiliki celah untuk itu.
Tidak mungkin ada korupsi dalam keluarga.

"Saat seorang ibu berbelanja berlebihan lalu membelikan anaknya hadiah supaya tidak mengadu ke ayahnya, korupsi kan namanya?
Saat seorang ayah mengulur waktu untuk menjemput istrinya secara sengaja lalu menjadikan macet sebagai alasan, korupsi waktu kan namanya?
Saat seorang kakak menyalahgunakan wewenang yang diberikan padanya misalnya membagi biskuit untuk adiknya dengan bagian yang lebih kecil, korupsi kecil kan namanya?"

Saya tercekat. Kesal. Marah.
Merasa dipencundangi.

Bukan, korupsi bukan budaya bangsa.
Mulai hari ini saya akan membuktikannya.

1 comments:

agus maya mengatakan...

judulnya keren gan, bisa buat materi sosialisasi "bukan, korupsi bukan budaya bangsa"

 

Template by Best Web Hosting