Selasa, 30 Oktober 2012

Aku sayang kamu, kak

Pagi ini.
Kabar kematian.
Seperti ada yang tiba-tiba hilang. 

Berangkat kuliah
meskipun niatku sudah menguap habis.
Mendengarkan Tata yang terus-terusan membicarakan soal bagaimana takdir merenggutmu dari kami.

Lalu kampus.
Memeluk Lidya yang menangis sesenggukan sambil sesekali berkata,
"Gue kira dia bakal bertahan, gue ngga nyangka dia bakal pergi.."

Siapa yang menyangka, kak?

Aku benci menangis.
Aku benci mengakui bahwa maut demikian hebatnya menyelinap lalu mengambilmu.

Aku menjauhi siapa saja yang membicarakanmu hari ini, kak.
Aku tak ingin tau bagaimana kamu merasakan sakit sebelum meninggalkan kami.

Ini menjadi pilihanku.
Diam dan tak membicarakan tentangmu bersama siapapun.
Menarik otot otot pipiku dan memikirkan saat-saat menyenangkan denganmu saja.
Bernafas pelan dan menahan air mataku untuk tumpah.
Merasakan sakit kepala hebat karena menekan emosiku seharian.

Meskipun kenyataannya sekarang pipiku basah.

Kak,
aku sayang kamu.
Aku suka caramu membiarkan beberapa bawaanku lolos dari pemeriksaan saat masa orientasi kampus.

Dan senyummu,
teman-temanku tau aku selalu melonjak senang tiap kali kamu usai menyapaku.
Aku bukan yang satu-satunya pengagum senyum dan caramu menaikkan sebelah alismu, kan?

Waktu yang kamu luangkan untuk mendengarku.
Atau sekedar bertanya, "Kenapa, Ul?" saat rautku cemas.
Aku sayang kamu, kak.
Aku menyesal kenapa harus mengatakannya saat kamu sudah tak bisa lagi mendengarku.

Untuk seorang kakak, Ahmad Abdul Aziz.
Iya, aku sayang kamu (lagi) kak.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting