Kamis, 06 September 2012

Untuk papa yang paling menyebalkan :)

Dulu aku heran kenapa mama bisa nikah begitu lama sama papa.
Papa adalah tipe lelaki dominan, enggak suka dibantah, kadang egois.

Papa suka jalan-jalan, suka makan-makan,
tapi semenjak gula darahnya di atas normal papa harus membatasi asupan makanan yang masuk ke tubuhnya, harus rajin cek darah, harus rutin ke dokter, harus selalu minum obat.

Dan membatasi porsi makan seseorang ternyata jauh lebih sulit dari teorinya, bung.
Banyak cara dilakukan, mulai dari pengurangan asupan gula untuk kami sekeluarga,
melabeli toples cemilan dengan label 'MANIS' atau 'ASIN'.
Bahkan membeli gula khusus untuk diabetesi (penderita diabetes.red).

Awalnya mudah, namun kian hari kesulitan mulai muncul.
Papa yang secara tidak sadar takut akan hasil tes darahnya mulai jarang mau periksa ke lab, tidak ada hasil lab berarti tidak bisa konsultasi ke dokter,
itu berarti tidak ada resep yang bisa dibeli di apotek.

Mama kesulitan meminta papa untuk pergi ke dokter,
kultul patrilinial memang membuat wanita sering sulit mengungkapkan isi hati secara blak-blakan.

Mama bukan tipe perempuan yang bisa bicara pedas,
semua kalimat yang diucapkannya untuk menasihati kami pasti sudah dirancang menjadi lembut dan manis.

Aku mulai menggunakan banyak trik berbicara yang aku pelajari, entah di kelas, atau otodidak dari internet. Berbicara dengan seorang ayah tentu jauh berbeda dengan mengungkapkan pendapat di kelas. Ini soal metode, soal bagaimana meminta orang lain mengerjakan sesuatu dan merasa dihargai.

Usaha tak sampai disitu, aku pun meminta adik-adik untuk tidak memilih makanan yang menjadi pantangan papa saat kami pergi untuk makan di restoran, syukurlah dua jagoan kecil yang sekarang sudah tak kecil lagi itu sangat kooperatif.

Kadang aku kesal saat papa mulai keras kepala,
saat egonya melambung berpacu dengan emosiku yang mudah terpancing keluar.
Aku kesal saat kata-kataku sering tak diacuhkannya.

Lalu mendengar cerita dari seorang teman yang ayahnya pemabuk, tukang pukul, sering bicara kasar, dan pergi entah kemana.
Kemudian aku teringat papa yang menghadiahi dua pot anggrek cantik untuk mama di ulangtahunnya,
Aku bersyukur.

Tak peduli seberapa menyebalkannya,
aku tak ingin papa ditukar dengan ayah manapun.


*ditulis dengan air mata yang tak berhenti mengalir dalam tiap hurufnya*

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting