Sabtu, 08 September 2012

Tentang nelayan kecil..

Malam ini gue udah berjanji akan berhenti browsing dan mulai membaca bahan tugas Psikologi Kognitif, setelah menulis post ini.

Di perjalanan pulang sehabis makan malam bersama El, Fany, dan Tata.
Tata si eksotis dari Bali ini mengungkapkan sebuah pernyataan yang membuat gue pingin nangis di jalan, saat itu juga.

Kami awalnya membicarakan seseorang yang cukup dekat sama gue belakangan.
Orang ini spesial, prestasinya banyak, keluarganya jelas terpandang, orangnya tentu saja baik dan pengertian, dan masa depannya berprospek.
Singkat kata, kalau realita ini di-convert ke dongeng maka dia adalah tipe saudagar sukses yang lagi cari partner hidup.

Gue sadar gue mengangguk pas Tata bilang,
"Tapi kalo dia offer his life to you, lo mau nerimanya?"

Lalu anggukan gue dilanjutkan dengan gelengan kepala,
"I'm just too ordinary to be his partner, he's too much for me.."

Tata menoleh ke arah gue, "Lo sadar kan sudah menyianyiakan satu kesempatan? Sadar kan udah melepas ikan yang sangat besar?" (ngga ngerti juga kenapa dia menganalogikan cowok dengan ikan)

Gue ngga bisa ngomong.
Tapi dalam kepala sebenernya menyadarkan diri sendiri,
"Nelayan kecil tentunya cukup tau diri untuk tidak memburu paus atau hiu,"

Nelayan kecil ini lagi belajar, mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya.
Kelak saat ia sudah bertransformasi menjadi nelayan yang tangguh, tentu saja dia akan berani mengangkap ikan-ikan besar.

Nelayan kecil ini cuma tak mau kailnya rusak karena terlampau tinggi menetapkan hasil.

Selamat malam,
Gue mau berhenti menangis dan bermalam minggu dengan Psikologi Kognitif dulu.. :)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting