Senin, 24 September 2012

Kamu imaji

"Aku akan membuatmu tersenyum setiap hari," katamu saat bulan mulai memutih di lautan biru kelam langit.
Aku tersipu, "Kamu memang selalu membuatku tersenyum tiap kali mengingatmu,"

Lalu datang ragu, menyelip melalui celah-celah hati yang tadinya diisi harapan.
Hatimu beku, kamu seperti batu-batu yang kulewati di sepanjang jalan pulang.
Mati. Tak berperasaan.

"Apa yang berubah?" tanyaku suatu ketika, dengan airmata tertahan.
Kamu menatap awan yang berarak, tak peduli kehadiranku.
"Aku ragu. Aku tak ingin dibohongi oleh imajiku," balasmu tanpa membalas tatapanku.

"Apa alasanmu meragu? Apa rasaku terlalu seperti imaji? Apa aku tampak tak nyata?"

Kamu berdiri, meninggalkanku.
"Itulah masalahnya, aku tak bisa membedakan mana yang nyata dan imaji.
Bagaimana aku tau bahwa kamu benar nyata?"

Hatiku retak retak.
Tangisku pecah merusak kesunyian.
Aku tak peduli lagi.
Mungkin kamu yang imaji.
Mungkin rasaku padamu imaji.
Mungkin memang tak pernah ada kita.
Hanya imaji.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting