Sabtu, 01 September 2012

Aku tidak tolol, aku harap kamu cukup pintar


Sabtu.
Hari terakhir penerimaan mahasiswa baru.
Hari dimana senyum, tangis, dan tawa melebur porak poranda.
Hari dimana sakitku setahun lalu bermula.

Berkeliling di sekitar api unggun, bernyanyi bersama, berbagi rasa cinta soal orang-orang yang hidup di sekeliling kami.
Mendengarkan lagu yang terus dinyanyikan setiap tahun, lagu yang selalu mengembangkan senyum di setiap civitas, lagu yang akan selalu mengingatkan kami pada rumah kedua kami disini.

Malam ini dinginnya menusuk kulit,
namun taukah kamu hatiku jauh lebih dingin dari ini.
Taukah kamu dinginku bisa jauh lebih menyakitkan dan kejam membunuh?

Aku tidak pintar, 
namun tidak pintar sama sekali berbeda dengan tolol.

Aku tidak tolol dan belum lupa caramu meninggalkanku disini setahun lalu.
Aku tidak tolol dan belum lupa sakitnya menangis sepanjang jalan pulang karena kecewa.
Aku juga tidak tolol dan belum melupakan hebatku mengubur semua pedihnya lalu bertemu denganmu beberapa jam setelahnya.

Aku tidak tolol.
Itu mengapa aku menyimpan sedikit bagian dari rasa sakitnya untuk tetap mengingatkan aku tiap kali aku hendak jatuh ke dalam rasa yang sama.

Aku tidak tolol.
Harusnya kamu tau itu.

Dan kamu,
kamu cukup tolol untuk menyakiti perempuan ini.
Aku harap kamu cukup pintar nantinya untuk menerima sakitnya, meski bukan dari aku.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting