Rabu, 11 Juli 2012

Kalo golput, musti konsisten kan?

"Jakarta macet. Jakarta panas. Jakarta banjir. Jakarta kumuh. Jakarta rawan kriminal.."
Kayaknya udah sering denger keluhan kaya gitu dari warga Jakarta, ya kan?
Gue sebagai warga non-Jakarta yang sering makan di Jakarta, belanja di Jakarta, main di Jakarta, atau sekedar sightseeing di Ibukota Indonesia juga rasanya nggak jarang mengeluh soal keadaan kota itu.
Hari ini adalah pemilihan umum untuk menentukan Gubernur Jakarta.
Dengan 6 calon yang 2 di antaranya adalah independen, warga Jakarta diharapkan memilih satu pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur untuk 5 tahun ke depan.
Gue rasa dengan adanya pemilihan ini, warga Jakarta diberikan kesempatan untuk mewujudkan harapan baru, memilih pemimpin yang dapat menyuarakan pendapat mereka, memilih masa depan Jakarta.
Tapi pagi ini lain,
di Twitter gue udah liat banyak temen gue yang proudly mentioned kalo mereka golput alias Golongan Putih alias tidak memilih, kalo menurut gue pribadi sih alias pesimis.
Salah satu temen gue ada yang bilang, "Golput itu pilihan, pilihan gue untuk tidak memilih.."


Well, gue engga akan berkomentar soal pilihan lo..
Gue juga engga akan bilang jadi golput itu haram, cuma ya dipikirin aja sih..
Lo punya satu suara buat mengubah keadaan, lo punya satu kesempatan buat menjadikan kota lo nyaman buat lo dan banyak orang lainnya.


Lo bisa bersuara pas mengeluhkan ini itu buat Jakarta, trus pas ada kesempatan buat mengubah hal hal yang lo keluhkan dan kesempatan itu dateng lima tahun sekali lo sia-siakan gitu aja?
Yaaa, menurut gue sih yang konsisten aja sekalian..
Kalo memilih buat tidak bersuara alias golput, mustinya memilih untuk tidak bersuara dalam menyampaikan keluhan, ya kan?

1 comments:

goes mengatakan...

setujuu!!!!

 

Template by Best Web Hosting