Minggu, 29 April 2012

Beda dulu beda sekarang

Semalem adek gue yang paling gede bbm, "Besok kita sekeluarga mau pergi ke Bogor,"

Bacanya ngga tau kenapa gue pingin nangis.
Entah kangen atau mungkin iri.


Memasuki dunia perkuliahan rasanya 180 derajat beda sama jadi anak rumahan.
Dulu kalau mau apa-apa tinggal minta, kalau mau cerita selalu ada yang bakal dengerin, kalau lagi PMS enggak perlu susah payah buat menyembunyikan muka suntuk dan bete.

Rumah gue sangat demokratis (thanks to my parents), jadi kita memutuskan segala sesuatu dengan musyawarah. Ini termasuk rencana liburan, tempat makan, atau menu makan apa yang mau dimasak besok. Belajar hidup bareng orang lain, apalagi yang lebih suka mendominasi membuat gue harus banyak mengalah.
Dan, yah memang merubah kebiasaan enggak semudah kelihatannya.

Semua orang di rumah gue pun pengertiannya kebangetan, kalau gue lagi suntuk atau sebel dan engga bisa diganggu, mereka cukup sabar buat sementara mengurangi komunikasi dengan gue. Soal konflik, kita sekeluarga biasa menyelesaikan sesudah makan malam saat semua anggota keluarga hadir buat mencari penyelesaiannya.

Belajar hidup bareng orang lain, membuat gue mau nggak mau harus menomorduakan suntuk dan bete gue dan tetap kooperatif. Percayalah, ini menyakitkan bila terlalu sering dilakukan. :)
Selain itu juga, gue jadi kelewat sering minta maaf ketimbang mengutarakan yang gue mau. Well, gue paling benci diem-dieman pas marahan. Jadi ga peduli kesalahan siapa gue otomatis minta maaf. Percayalah, ini memuakkan bila terus menerus dilakukan. :)

Maaf untuk post nyampah yang entah sudah kesekian kalinya,
gue cuma capek.. :')

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting