Jumat, 30 Maret 2012

Kopi (baca: pasangan) yang pas

Ini percakapan dengan salah satu temen gue yang menutup hari kemarin menjadi hari yang tidak (begitu) buruk, jangan tanya ada apa siangnya yang jelas sepanjang hari kemarin emosi gue benar-benar sedang diuji ketahanannya.. :p
Jadi, kami berdua membicarakan soal kriteria pasangan masing-masing.
Gue memulai dengan kriteria gue yang seabrek-abrek..
*Gapapalah ya namanya juga kriteria, masi fleksibel sifatnya*

Lalu saat tiba gilirannya dia cuma memberikan satu kriteria, ya memang cuma satu.
"Gue mau yang pas,"

Gue jelas protes,
"Lo tau ngga kalo yang namanya pas dalam skala nilai satu sampe sepuluh itu nilainya cuma tujuh. Kalo lo bisa dapet yang maksimal kenapa mau yang standar?"

"Gue maunya yang pas, bukan yang standar. Pas itu bukan standar.."

Akhirnya untuk mendapatkan definisi yang jelas dari 'pas' ini gue memutuskan buat ber-analogi.
"Ibarat kopi, menurut gue pas adalah kopi sachet instan yang diproduksi massal. Sekali produksi ada sekitar sekian ribu sachet. Dijualnya dimana-mana, di warung ada, di supermarket ada. Cuma butuh uang dua ribu udah bisa lu dapetin. Diminumnya juga cuma tinggal seduh aja, beres.." kata gue dengan semangat berapi-api.

Sekarang giliran dia yang berpendapat, gue diam mendengarkan.
"Pas itu beda sama standar. Kalo dianalogikan sama kopi jelas bukan kopi sachet instan yang murah kaya yang lo bilang. Pas itu kaya kopi yang gue suka. Pasti beda sama yang orang lain suka, menurut gue secangkir kopi engga boleh kehilangan rasa pahitnya, tapi engga boleh juga sampe ga ada manisnya sama sekali. Suhunya harus sesuai sama yang gue suka, kalo dingin jadi ilang citarasanya, kalo panas engga bisa diminum. Semua orang menurut gue punya kadar pas-nya sendiri.."
Ya, kalimat-kalimat terakhir sedikit banyak mengubah cara gue berfikir.
Gue rasa, gue pun engga terlalu suka kopi yang gimana-gimana amat.
*kopi disini masih analogi*
Setiap orang, menurut gue akhirnya memang lebih suka meminum kopi yang pas buat mereka setiap pagi.
*sekali lagi, kopinya masih analogi*

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting