Sabtu, 25 Februari 2012

Anak tangga nomor empat

Aku ingat.
Di anak tangga nomor empat, kan?
Waktu kamu tanya aku dengan suara yang beradu derasnya hujan.
Aku diam. tersipu malu-malu.
Begitu saja, lalu kita saling menukar hati.


Awalnya mudah. Manis. Bahagia.
Awalnya hanya potongan-potongan senyum yang kau rangkai menjadi tawa.


Lalu kejenuhan menyeruak.
Membunuh perlahan seperti racun yang mulai menyebar melalui kapiler darah.
Pelan namun menyakitkan. Pun mematikan.


Ah kamu,
Aku mampu bertahan kalau itu yang kamu inginkan.
Aku yakin mampu.


Tak sepertimu yang langsung berlalu,
mengembalikan hatiku yang sudah jadi abu.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting