Minggu, 13 November 2011

At first, they laughed at you..Inspired by : prof Sutardjo

Tulisan ini dibuat di sela kemalasan mengerjakan presentasi kelompok yang deadline-nya besok, yang dosennya sangat 'super kind', yang materinya soal kenegaraan, yang menurut gue it's not so me (bahasa Indonesianya, engga gue banget lah..) hahahaha

Ini soal tertawa. Menertawakan. Ditertawakan.

Pemikirannya datang dari kekesalan karena comment di foto gue yang memang gayanya selalu weird dan engga biasa. Entah kenapa, gue sangat merasa jatuh kalo lagi ditertawakan. Gue tau gue aneh, selera gue aneh, pemikiran gue terkadang aneh, all parts of me is so damn weird, yeah I know.

Udah tau soal masa SMA gue? Atau malah udah bosen dengernya?

Sisi hitam yang rapuh di diri gue mungkin berawal dari situ. I've already accepted who I am. Tapi begitu ada orang yang ngetawain, engga tau kenapa gue jadi ngerasa keciiiiiil banget. Minder yang biasanya langsung disusul dengan rasa marah, benci, nggak jarang dendam.

And somehow I remember Prof.Sutardjo.

Beliau ini guru besar Psikologi Klinis di Universitas Padjadjaran (beliau memberi kuliah Filsafat Umum untuk mahasiswa semester 1), gayanya tenang, nada bicaranya monoton, kalo di tengah kuliah ada hal yang mengganggu (kelas berisik atau ponsel beliau bunyi) pasti setelahnya kita harus ingetin lagi tadi beliau ngomong sampe mana.

Kelas kita berlaku sangat tidak baik ke beliau menurut gue, oke tidak baik itu terlalu sopan. Kasarnya, kurang ajar. Waktu beliau ngajar, banyak yang ngobrol, tidur, main ponsel/bb, atau malah diem-diem makan. Pertemuan demi pertemuan terus terusan aja begitu.

Dalam hati gue marah, gue engga terima orang dengan ilmu setinggi beliau diperlakukan kayak gitu. Gue sakit hati, dalam hati merutuk.

Pada satu pertemuan, beliau memberikan satu contoh (seinget gue waktu itu kita lagi membahas logis dan tidak logis) gini kira-kira dialognya,

Beliau : "...misalnya saja pohon kelapa dan mangga. Apakah logis kalau saya mengatakan suatu hari nanti pohon kelapa bisa disatukan dengan mangga. Maka akan ada kelapa rasa mangga."

Mendengar contoh yang rasanya hampir tidak mungkin, kami sekelas tertawa. Entah mengejek karena contoh kelewat ekstrem atau hanya tertawa agar terlihat menyimak. Tapi entah kenapa gue masih memperhatikan raut muka beliau yang datar, menunjukkan kalau memang beliau tidak melucu.

Beliau : "Pada tahun 82, saat saya mengajukan ide tentang kemungkinan adanya ilmu baru dalam cabang psikologi, saya pun ditertawakan seperti ini. Saya pada masa itu mengatakan, ilmu psikologi harus berkembang, akan ada ilmu psikologi misalnya saja psikologi tata boga yang akan menganalisa perilaku dari cara makan atau bahan makanan yang dimakan seseorang."

Kami diam. Kelas tiba-tiba berubah sunyi.

Beliau : "Hampir semua yang hadir dalam pertemuan itu menertawakan saya, menganggap ide saya terlalu nyeleneh. Tapi kemudian, lahir ilmu yang saya maksud. Hanya saja namanya Psikologi Kesehatan, di negara Barat ilmu ini sudah populer dan dijadikan salah satu cara untuk menganalisa perilaku."

Rasanya seperti menelan kelapa rasa mangga langsung ke kerongkongan.
Merasa benar-benar bodoh dan dangkal.

Thanks to you Sir.
Now I know, first they laughed at you..
At the end, you won..


0 comments:

 

Template by Best Web Hosting