Senin, 07 Maret 2011

I wrote this two years ago, happy reading.. =)

If and Only If
Aku menghampiri Satya yang terlihat sibuk memainkan angka-angka di buku latihan Matematika. Bahkan saat aku sudah berdiri di sampingnya, masih saja tak disadarinya kehadiranku.

“Sat,” kataku dengan suara bergetar.
Satya tetap mengukir kertasnya dengan pena. Tak peduli.
Lagi, kuberanikan diri memanggilnya. “Sat, bisa ngomong bentar?”
Tak kusangka, ternyata Dela ada di belakangku. Digebraknya meja Satya, “ELO TULI? RANI DARITADI MANGGIL ELO!!”

Airmataku menggenang, kucegah Dela berbuat lebih jauh. Dengan sendirinya, dia menyingkir. “Satya, kalo kamu kasi aku waktu buat ngomong—aku janji kamu gak bakal nyesel. Karena aku bakal jelasin semuanya,” bisikku tepat di telinga Satya. Airmata kini mulai turun satu-satu.

“Si Satya tetep gak mau dengerin elo?” tanya Dela usai melepas earphone di meja.
Aku menggeleng, “Sebentar lagi juga dia udah baik lagi Del. Satya kan gak bisa marah lama-lama,”
Dela menempelkan punggung tangannya di keningku. Lalu menepuk-nepuk pipi kanan dan kiriku bergantian dengan pelan dan mimik muka heran. Sama herannya denganku. “Rani, elo inget gak sih? Ini udah kali ke sembilan puluh dua elo bilang gitu. Tau apa artinya? Udah tiga bulan Satya nyuekin elo. Perlu berapa lama lagi?”
Kuhela nafas panjang, aku pun tau ini sudah bulan ketiga. Tanpa Dela mengingatkan, sudah kutandai hari demi hari marahnya Satya dengan spidol merah di kalenderku.
“Rani, maafin gue ya? Gak seharusnya gue ngomong gitu ke elo. Tapi elo gak boleh naif. Cowok masih banyak Ran,”

Hatiku miris. Kubuka lembar demi lembar buku dongeng yang dulu kalimat-kalimatnya kurangkai dengan tanganku sendiri. Yang di sampulnya tertulis, “Till Forever..”
“Putri kerajaan cuma punya satu pangeran.” Gumamku membuat Dela kembali menoleh.
Diraihnya buku dongeng itu, dibuka lembar-lembarnya dengan asal. “Tapi gue yakin, disini gak tertulis kalo pangeran bikin putri nangis tiap hari. Sampe mata putri kayak kuntilanak. Gak tertulis gitu kan?”
“Memang gak tertulis gitu. Tapi dengan jelas tertulis kalo putri gak akan ninggalin pangeran—pun sebaliknya.”
Kalimat yang meluncur dari bibirku hanya membuat Dela mengangkat bahu, lalu sibuk kembali mengunyah permen karet sambil kembali mendengarkan musik dari handphone.

Bu Frida tak mengajar hari ini. Kelas ribut bukan main, beberapa siswa malah memutuskan untuk menghabiskan dua jam pelajaran kosong milik Bu Frida di kantin tanpa menghiraukan Siska si-sekertaris kelas yang telah mengumunkan tugas portofolio.

Sementara aku, kembali memutar memori seperti kemarin-kemarin. Sembari berkutat dengan kalimat ‘andai saja...’

Tepat sembilan puluh dua hari yang lalu...
Di tahun kedua pacaranku dengan Satya...

Aku, menatap lurus guguran daun yang ada di luar kelas. Tak peduli dengan ocehan Pak Syarief tentang Diferensiasi atau Integral yang biasanya sayang kulewatkan. Tapi hari ini berbeda, hari ini istimewa!! Aku akan memberi kejutan untuk Satya. Untuk pangeran yang tepat dua tahun merengkuh serta melindungiku dalam bahagia yang tak akan berujung.
Maka usai Pak Syarief mengucap kata sampai jumpa lain waktu yang memang menjadi ciri khasnya, aku tak sabar lagi untuk segera melangkahkan kakiku keluar kelas. Menuju taman yang tanahnya kuyakin telah tertutup guguran daun, taman yang menjadi saksi pernyataan cinta Satya dan jawabanku dua tahun lalu.

'Syg, aq tnggu di tman y!'
Aku mengirim sms ke Satya. Tapi di tengah derap langkahku menuju taman, kuterima sms balasannya.

'Tp hr ini ada rpat KIR. Aq dtg telat y?'
Ya ampun!! Apa yang dipikirkan pacarku itu sih? Apa dia lupa kalo hari ini adalah hari peringatan tahun kedua jadian kami?

'Pokoknya jgn dtg telat! Aq bkal marah kalo km smpe dtg telat.'
Kebetulan yang benar-benar kebetulan! Handphone ku mati karena kehabisan baterai. Tepat saat sms untuk Satya terkirim.

Aku berdiri di bawah pohon ini, persis seperti dua tahun yang lalu. Guguran daun kering berwarna kuning yang menimbulkan bunyi gemerisik saat terinjak membuat aku tau saat ada orang lain yang datang.
Degup jantungku bertambah keras. Semakin dekat derap langkah itu, makin keras jantungku berdegup.
Maka, setelah memastikan bahwa Satya telah ada di belakangku. Aku segera memutar tubuh, lalu dengan lembut mengecup pipinya cepat. “Happy anniversary kita ya say—”

Hanya sampai disitu, kalimatku terhenti.
“Aldo? Ngapain lo disini?”
Cowok di depanku ini tampak linglung. “Gu—gue disuruh Sat—Satya buat...”
Tak lagi kuhiraukan kalimat Aldo yang belum selesai. Yang kutau kini, Satya berdiri di belakang Aldo dengan mata tajam menyala. Terluka.
Setiap mengenang peristiwa itu aku menangis. Sakit itu merebak kembali, sakit yang hadir saat kusesali semua apa yang telah terjadi. Berjuta kata seandainya memenuhi ruang di dalam tempurung kepalaku.

Seandainya aku tak lupa men-charge baterai handphone ku..
Seandainya aku lebih dulu melihat siapa yang ada di belakangku..
Seandainya aku tak mengajak Satya bertemu di taman itu..
Seandainya..
“Satya, harus ada berapa juta penyesalan agar kamu mau ada di sampingku lagi?”



0 comments:

 

Template by Best Web Hosting